Tergerak hati tuk menulis sesuatu… karena ternyata masih ada yg percaya pada hal othak-athik gathuk ato semacamnya, ya kalo mathuk beneran, kalo gak gimana, bisa bikin orang kebakaran jenggot.
Berikut mengutip dari sebuah situs:
Gempa dan Ayat-Ayat Allah Swt
Segala sesuatu kejadian di muka bumi merupakan ketetapan Allah Swt. Demikian pula dengan musibah bernama gempa bumi. Hanya berseling sehari setelah kejadian, beredar kabar—di antaranya lewat pesan singkat—yang mengkaitkan waktu terjadinya musibah tiba gempa itu dengan surat dan ayat yang ada di dalam kitab suci Al-Qur’an.
“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayat-ayat Allah Swt tersebut:
17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16):
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58):
“Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”
8.52 (QS. Al Anfaal: 52):
“(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”
Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Ini tentu sangat menarik
Entah siapa yg ngawali, setiap ada ada kejadian tertentu (yg “luar biasa”), sebagian kita akan mengaitkan dengan ayat Al Qur’an. Emang gak salah sih, malah bagus tuh agar Qur’an selalu menjadi Pedoman dan Penjelas Pedoman (hudan linnasi wa bayyinati minal huda). Sayangnya mengaitkannya dengan ilmu gathuk (opo boso Indonesiane).
Selain kutipan diatas, kita juga masih ingat dengan peristiwa nine eleven (9:11), yg dikaitkan dengan angka2 serupa. Yg lebih lucunya lagi, kisahnya Nordin M Top yg tewas di Mojosongo, juga dikaitkan (digathuk-gathukne) dengan angka sembilan, songo.
Sudah sedangkal itukah ilmu tafsir generasi jaman sekarang???
Khusus ttg gempa di Sumbar, rasanya tak tega hati ini sependapat dengan ayat2 yg ada di kutipan diatas itu. Ayat-ayat itu seperti “menghakimi” saudara,sahabat dan kerabat kita di Sumbar, padahal bukan hak kita menghakimi sesama manusia. Terlebih tak sedikit saudara/keluarga (dekat) yg tinggal di Padang, 2 keluarga besar Bulik/Paklik ada disana. Kabarnya satu rumah hancur seluruhnya, sedang yang lainnya rusak parah. Untungnya semua saudara masih diberi keselamatan olehNya.
Setiap peristiwa, termasuk bencana, pasti memiliki maksud dan hikmah sendiri bagi masing2 orang yang mengalaminya, yangmana kebenaran sejati hanya Allah yg tahu. Karena keterbatasan pengetahuan manusia, tentunya tidaklah bijak kita menyimpulkan suatu peristiwa yg melibatkan banyak orang dengan satu kesimpulan yg tanpa dasar yg jelas dan syar’i.
Kalo setiap bencana kita katakan sebagai azab atas kedurhakaan manusia yg tinggal di wilayah itu, alangkah piciknya kita. Padahal bencana2 yg selama ini menimpa kita kebanyakan (tidak semuanya) adalah karena peristiwa alami, seperti pergeseran lempeng benua. Lah terus mereka yg kebetulan tinggal di wilayah tempat pertemuan lempeng benua itu dan terkena bencana, apakah mereka ini pelaku maksiyat semua? Lalu gimana dg orang yang tinggal di daerah yang relatif sedikit terjadi bencana, apakah mereka ini kebalikan dari yang tadi?
Marilah berempati bukan menghakimi. Mari bergerak membantu dan tak hanya diam terpaku.
Semoga Allah memberi semangat juang kepada mereka serta ketabahan untuk melanjutkan hidup. Amin.
NB: Lebih jauh ttg seluk beluk gempa, silakan kunjungi: Situs Pak Dhe Rovicky





Okt 05, 2009 @ 19:52:14
Yang jelas Allah kasih kita 2 ayat. Qouliyyah dan Kauniyyah. Qouliyyah harus diimani dulu baru dibaca (tadabur). Sedangkan Kauniyyah dibaca tapi masih dipikir2 (tafakkur).
Semua ayat yang Anda sebutkan di atas sangat jelas. Yang Ma’siyat terkena Azab. Itu kepastian dari Allah.
Terus ada peristiwa gempa (ini ayat Kauniyyah) maka metodenya dipikir2. Yang namanya dipikir tentu ada proses kait-mengkait. Ada proses hipotesa. Belum sampe tingkat kebenaran. Bisa dilawan dengan Antitesa lagi, trus timbul sintesa. Terus . . . gitu prosesnya. Dialektika.
Artinya kok ada keterkaitan angka waktu dan ayat itu sangat menarik pemikiran. Tapi utk cape kebenaran sudah pasti sangat jauh. Atau kebenarannya sekitar sekian %.
Artinya masih membuka peluang kebenaran.
Orang dulu gak protes jika zarrah diibaratkan dengan biji sawi, terus ternyata berubah jadi biji atom, mungkin nanti akan berubah jadi benda baru lain yang memang bentuknya lebih kecil.
Artinya, meski tidak benar pun karena ayat Qouliyahnya sudah pasti proses jika maksiyat -> bencana, bisa diambil hikmah jaga-jaga. Introspeksi. Bukankah aqidah itu adalah gabungan antara Harap (roja’) dan Cemas (khouf). Berharap bahwa gempa itu adalah ujian tapi juga diiringi dengan cemas, jangan-jangan memang azab.
Anda baca2 lagi lah kisah-kisah bencana alam dalam Qur’an yang mematikan banyak manusia. Semua penyebabnya karena ada faktor kemaksiyatan. Baru-baru ini saja kaum orientalis meneliti utk mencari kesimpulan bahwa bencana itu semua peristiwa alam semata. Wallaohu a’lam
Untuk masalah kepedulian harus dipisahkan. Siapapun dia jika terkena bencana tetap harus ditolong. Dengan sekuat tenaga dan harta. Alhamdulillah saya dulu diberi kesempatan dalam misi Tsunami Aceh. Moga bisa berangkat juga di misi Padang ini.
yang saya takutkan adalah ayat Allah berikut :
Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi,[Al A'raf: 99]
Okt 06, 2009 @ 09:32:51
Sesaat stlh mbc kutipn dr media td,y tlintas adl subhanAllah.. Yg bkutat di kepala sy:sdh seburuk inikh negriku,sdh sburuk inikh aq?tk ada kata lain u bsegera.bdsr ayat,dsana barti ad maksiyat,tp kl dpikir dbali,apalagi.lalu bgmn dg saya n org2 dsktr sy?. Walau bukn barti,mereka y tkena bcana adl pdosa.bagi sy itu peringatan,agar sy,qt bsegera u kmbali,u tetap bjuang d jlnNya. Sy spakat jika kaitan pristiwa+ayat,adl bkn kbnaran mutlak,bkn pasti benar. Krn peristiwa adl,hanyalh ladang u mtadaburi,mmahami ayat.sbatas pmhamanlah capaian manusia.stinggi apa pun ilmunya kbenaran pmahamanya adl takkan pnah menyamai kbenaran sejati alias relatif.KbenaranQur’an adl Qur’an tu sndr bukan apa y ada d kepala manusia.wAllahu’alambishowab.
Okt 08, 2009 @ 12:37:53
Syukron, jazakumullah pendapatnya.
Alhamdulillah pendapatnya bagus2 dan menarik. Awalnya aku pikir msh ada yg ngotot dg otak-atik gathuk dg angka-angka tertentu.
Memang kisah2 di Qur’an khususnya ttg umat2 yg durhaka pd Tuhannya akan diberikan azab seketika. Tapi kita juga harus paham bahwa itu adalah umat sebelum Nabi Muhammad SAW. Ada keistimewaan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Silakan dipelajari lebih lanjut ttg fadhilah Umat Rasulullah SAW.
Dan janganlah kita terbawa emosi spt sinetron2 religi di tivi, bahwa azab dan nikmat akan secara seketika menimpa para pelakunya. Ada Sunnatullah yg belum mampu kita pahami.
Semoga bermanfaat.
Okt 12, 2009 @ 09:48:09
Boleh nambahin kan….
@kakilangitpro:
“Anda baca2 lagi lah kisah-kisah bencana alam dalam Qur’an yang mematikan banyak manusia. Semua penyebabnya karena ada faktor kemaksiyatan.”
Benarkah setiap bencana alam disebabkan oleh kemaksiyatan? Gempa Sumbar disebabkan oleh kemaksiyatan? SIapa pelakunya? kok dahsyat banget, berarti maksiyat yg dilakukan sangat besar tuh?????
Lalu gmn dg yg rajin sholat, taat, berbakti pd orang tua, anak2 yg belum bermaksiyat,dll??
Lalu gmn pula dg para koruptor, penjahat2 lainnya? Kok mereka, atau rumahnya gak kena gempa? malah di penjarapun dapat fasilitis VIP.
Kayaknya kakilangitpro ini suka nonton sinetron di tivi2; pinginnya setiap pelaku maksiyat langsung dihakimi dan disiksa.
Padahal Rasulullah ketika mengetahui ada umatnya yg bermaksiyat tdk langsung menghakimi tapi malah mendoakan agar mendapat petunjuk. Baca lagi dech buku-kitabnya.
Yg kutahu emang Allah akan membalas setiap kejahatan dan kebaikan manusia, tapi hanya Allah yg tau kapan dan dalam bentuk apa balasan itu diberikan. Sebagaimana tdk semua doa kita langsung dikabulkan olehNYA.
Semoga membantu.
Okt 12, 2009 @ 23:32:22
terus terang aku gak pernah nonton tv. ngenet teruuuus. saya gak tahu kalo sinetron2 skg kayak gitu.
gini bro, ayat yg didebatkan 17:16 itu maksudnya gini. Allah mau menghancurkan umat caranya dg menyuruh para elit di suatu negeri utk syukur tp malah maksiyat, temasuk para pejabat korup itu. ya akhirnya dihancurin sehancur2nya.
ya kalo udah dihancurin trmasuk jg yg taat beribadah jg hancur liat Al Anfal: 25. cuman kan yg maksiat matinya kufur, yg taat ya insya Allah syahid.
ini bukan tuduhan bro. tp kewaspadaan. jgn2 emang negeri kita ini udah terlalu banyak maksiyat. jadi azab turun.
Dulu waktu tsunami aku jadi relawan aceh. orang kira aceh serambi mekah, islami banget. ternyata setelah aku keliling, wawancara. aku berkesimpulan “itu mah bukan bencana tapi azab !”
sekali lagi ini kewaspadaan. emang boleh jadi bukan azab. tapi apa jaminan anda kalo itu bukan azab ?
Okt 12, 2009 @ 23:32:44
@joko:
terus terang aku gak pernah nonton tv. ngenet teruuuus. saya gak tahu kalo sinetron2 skg kayak gitu.
gini bro, ayat yg didebatkan 17:16 itu maksudnya gini. Allah mau menghancurkan umat caranya dg menyuruh para elit di suatu negeri utk syukur tp malah maksiyat, temasuk para pejabat korup itu. ya akhirnya dihancurin sehancur2nya.
ya kalo udah dihancurin trmasuk jg yg taat beribadah jg hancur liat Al Anfal: 25. cuman kan yg maksiat matinya kufur, yg taat ya insya Allah syahid.
ini bukan tuduhan bro. tp kewaspadaan. jgn2 emang negeri kita ini udah terlalu banyak maksiyat. jadi azab turun.
Dulu waktu tsunami aku jadi relawan aceh. orang kira aceh serambi mekah, islami banget. ternyata setelah aku keliling, wawancara. aku berkesimpulan “itu mah bukan bencana tapi azab !”
sekali lagi ini kewaspadaan. emang boleh jadi bukan azab. tapi apa jaminan anda kalo itu bukan azab ?
Okt 13, 2009 @ 17:27:03
diskusi efisiensi kertas ada di http://ahnku.wordpress.com/2009/10/11/cintai-lingkungan-dengan-efisisensi-kertas/
Okt 14, 2009 @ 20:16:00
Sebagai tindakan hati-hati; apakah pasti itu sebuah azab? apa dasarnya? Adakah dalil yg menyatakan bencana di daerah tertentu (sumbar misalnya) adalah sebuah azab?
Kenapa yg kena azab di Aceh, Nias, Yogya, Tasikmalaya, Sumbar dan daerah2 lain di sepanjang jalur pertemuan lempeng benua (apa nama ilmiahnya aku lupa)? Sedangkan daerah2 yg sering dijadikan tempat maksiyat jarang/tdk pernah kena bencana karena jauh dari sumber2 bencana alam?
Janganlah ketika setiap ada bencana besar selalu muncul kata2 Ini Azab, hukuman,dll.
Kalo aku sih, ngeliatnya bahwa sebuah peristiwa tidak bisa digeneralisir dan diambil kesimpulan umumnya. Biarlah ia menjadi peristiwa obyektif dan masing2 personal yg mengalaminya yg bisa merasakan apakah itu sebuah nikmat, azab atau “sapaan” dari Tuhan Pencipta Alam.
Dan kita yg kebetulan tdk mengalaminya jg memiliki penafsiran sendiri, sebagai sebuah dialog dari Tuhan kpd masing2 kita.
Sep 27, 2010 @ 18:51:04
salam… (admin: Wuryanto Puji Siswoyo)