Oleh: mazthoha | Maret 21, 2009

Larut Malam

Atas seijin penulisnya, artikel ini aku posting disini. Sebuah renungan ditengah suasana hiruk pikuk Pemilu 2009. Semoga menghadirkan insipirasi bagi pelaku, pengamat, dan penonton pesta demokrasi-yg sepertinya akan berjalan tidak mulus, khususnya dari pihak penyelenggara spt DPT yg banyak diragukan validitasnya.
Yaach sutralah, kita merenung dulu gih…

Sebagian orang takut akan gelapnya malam apalagi jika jam telah menunjukkan 00:00. Tetapi sebagian yang lainnya, larut malam adalah permulaan hidup, awal aktivitas dan bisnisnya. Di sisi yang lain, ada beberapa orang tertentu yang larut malamnya menjadi sebuah kegiatan ibadah, bercinta dengan Tuhannya. Berbeda dengan kebiasaan orang kebanyakan, orang-orang tersebut selalu mendoakan orang lain, terutama orang-orang yang dicintainya.

Republik ini seperti suasana larut malam. Sebagian orang baru memulai mencari penghidupannya, sementara lainnya mendoakan saudara-saudara satu ibu pertiwi. Larut malam di republik ini akan menjadi hiruk-pikuk, karena sebentar lagi akan ada pesta-pora penuh gengsi, yaitu pertaruangan orang berduit-idealis baik yang nasionalis maupun religius. Yaa…pesta demokrasi kata semua orang. Pesta itu dimulai dengan memilih partai, caleg sekaligus pres-wapres republik ini. Tetapi entahlah…mengapa biaya pendidikan, perumahan dan kesehatan sudah melejit melebih isi kantong separuh anak-anak di republik ini.


Republik ini tak pernah hilang daya tariknya, sejak awal berdirinya hingga kiamat nanti. Pertarungan antara nasionalis, sosialis dan agamis menjadi magnet para penghuninya. Larut malam tak mengajarkan apa-apa pada sebagian mereka, akan tetapi pada sebagian yang lain, banyak hal yang bisa diambil hikmahnya. Sepi…sunyi. ..senyap, menanamkan rasa bahagia tak terukur, menyaksikan bintang-bintang, hitam langit dan sejuk angin semilir.

Penghuni republik ini telah menukar kehikmatan dan kenikmatan malam dengan berpesta pora, mengatur strategi untuk memenangkan kursi dengan dalih idealisme, baik yang dibungkus oleh misi dan visi kebangsaan, kesukuan dan keagamaan. Kursi adalah tempat yang paling enak saat menikmati larut malam, sambil meneguk kopi, menyedot rokok dan menghitung-hitung diri, mulai dari pagi hingga sorenya. Kursi yang diperebutkan oleh yang berpesta bukanlah kursi kenikmatan akan tetapi kursi penuh amanah dan tanggung jawab, baik bagi diri, bangsa terutama kelak saat mereka dipanggil olehNya.

Larut malam adalah ciptaanNya, kita tidak pernah dan tak boleh gentar akan hadirnya. Pesta pora yang bertolak belakang dengan keheningan malam hanya menyeret orang-orang baik menjadi orang yang tidak lebih bermartabat. Larut malam juga mengajarkan bahwa dalam sunyi-senyap, manusia juga bisa hadir pada pesta yang lain. Setelah pesta usai, dan biasa identik dengan pagi…semua yang berpesta pada larut malam, akan tertidur lelap… dan bermimpi. Sedangkan sebagian yang lainnya terus beraktifitas menanggung beban yang tak kan pernah ringan meskipun tujuh puluh turunan menanggungnya.

Saat bersunyi-sunyi. ..kita akan dibukakan mata-hati olehNya. Siapa yang memang berhak untuk menjadi pemimpin republik ini !!! Dan itu tidak perlu diminta, tidak perlu pakai izin dan tidak mesti orang “besar”. Sebab disaat kursi telah mereka duduki, mereka lupa, bahwa berjalan-jalan menuju larut malam adalah pengakuan hakiki akan kehambaan manusia. Kalau semua orang diminta untuk memilih untuk mencontreng untuk mencoblos… maka jelas, republik ini tidak sekedar berada dalam kegelapan..akan tetapi juga menuju pada jurang kehancuran.

Biasanya para pecundang yang kelak akan ketahuan karena culas, curang, maling dan rampok akan terisak pada larut malam…di balik jeruji…ingkar janji…memperkaya diri dan akhirnya menyesali diri. Dan itu akan terjadi pada larut malam kehidupan para pencari kursi baik di DPRD, DPR/MPR atau PRES/WAPRES.

Maka larut malamlah…disana semua akan bertemu saat pesta demokrasi usai, baik dalam posisi evaluasi diri atau menyesali diri dan meneteskan airmata. Seperti kata orang bijak ” saya bisa membeli stick golf seperti milik Tiger Woods akan tetapi saya tidak akan sebaik Dia dalam bermain golf”. Setidaknya, jauhilah proses pencalegan.. .agar larut malam kita menjadi bermakna dan bercita rasa dihadapanNya. .dan tak peduli apa kata para pecundang di luar sana yang sedang meminum arak pesta demokrasi, katanya.

Semoga menjadi inspirasi !!!

Bukit Bambe, 17-03-2009
Syariful Alim


Beri tanggapan

Your response:

Kategori