Posting ini merupakan hasil diskusi disebuh situs fordis kampus, dan juga diterbitkan di blog-maztegh. Tema yang dibahas ttg sebuah buku “kontroversial” (bagi sebagian orang) Ternyata Adam Dilahirkan, anda pasti sudah tau siapa penulisnya, Agus Mustofa.

Mengkritisi buku tersebut sebenarnya bukan kapasitas kita, tapi setidaknya bisa dijadikan sebagai bahan diskusi dan asah pemikiran. Dari judul bukunya aja sdh tergambar spt apa kontroversialnya. Selama ini sebagian besar orang, khususnya pemeluk agama samawi, meyakini bahwa Adamlah manusia pertama yang diciptakan langsung oleh Sang Pencipta. Diciptakan dari tanah dan bukan dilahirkan.

Satu point yang aku kurang sreg, apalagi ketika aku compare dengan referensi lain terkesan bertentangan, adalah mengenai uraian/penjelasan/penafsiran terhadap QS. Ali Imron ayat 59. Dan ayat ini sepertinya (kalo membaca buku tersebut) menjadi inspirasi penulisan buku diatas.

QS.3:59 :Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

Penulis dalam buku itu menyatakan jika di ayat itu dikatakan bahwa proses penciptaan Isa itu disamakan dengan proses penciptaan Adam, maka logika baliknya adalah penciptaan Adam sama dengan proses penciptaan Isa. Dimana kita ketahui bersama bahwa Isa diciptakan Allah melalui proses kelahiran seorang ibu yaitu Maryam. Sehingga dinyatakan dalam buku itu bahwa Adam juga diciptakan melalui proses kelahiran dari seorang ibu. Ya, ternyata Adam dilahirkan, menurut buku itu.

Sampai disini, nampak jelas penyederhanaan penafsiran ayat diatas. Sampai dengan saat ini penafsiran ayat tersebut oleh Para Ulama-Jumhur Ulama, (kurang lebihnya) seperti ini bahwa di sisi manusia proses kelahiran Isa itu memang sungguh diluar kebiasaan, karena ibunya yaitu Maryam tidak bersuami dan sangat menjaga kesucian sehingga gak mungkin “berkumpul” dengan lawan jenis (selingkuh), tapi di sisi Allah bukanlah hal yang luar biasa dan bahkan sangat mudah, yang dimisalkan seperti penciptaan Adam, yang tanpa ayah dan ibu, dengan mudah dapat diciptakan dari tanah.

Jadi permisalan itu sebagai perumpamaan saja tentang kemudahan Allah dalam berkehendak dan melakukan kekuasaanNYA, khususnya dalam hal “menciptakan” Isa. Dan bukan persamaan jika A = B maka pasti B = A. Lagipula, rangkaian ayat ini (sebelum dan sesudahnya) menceritakan tentang Kisah Nabi Isa, dan tidak khusus memberitakan tentang penciptaan manusia.

Dan dalam ayat tersebut kata yang dipakai adalah inna matsala….kamatsali…

Mari kita buka ayat lain yang menggunakan kata yang mirip dengan ayat diatas.

QS.2:17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api[26], maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Ayat ini juga memakai kata matsaluhum kamatsali…. dengan terjemahan seperti diatas (terjemahan Depag RI yg sdh di-digital-kan). Dimana kata ini diterjemahkan dengan kata perumpamaan, yang maksudnya sebagai sebuah pengibaratan. Footnote: [26]. Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.

Sayangnya di ayat 59 surat Ali Imron tidak ada footnote-nya. Mungkin penerjemah (Depag RI) sudah menganggap masyarakat sudah mafhum (paham) maksud dari perumpamaan penciptaan Isa dan Adam tersebut. Lalu darimanakah penulis buku itu mendapat kesimpulan yang berbeda. Di agama Kristen dan Yahudi pun, Adam diyakini sebagai manusia pertama.

Satu hal lagi, menurutku, pernyataan yang menjadikan buku tersebut controversial adalah mengenai penafsiran al basyar dan al insaan. Dikatakan bahwa proses kehidupan manusia dimulai dengan makhluk yang disebut al basyar, kemudian disempurnakan, diberi bekal ilmu pengetahuan dan ditiupkan padanya Ruh (ciptaan) Allah maka al basyar itu berubah menjadi al insaan. Dan al insaan itu mendapat nama Adam.

Lalu siapakah al basyar itu? Apakah dia yang melahirkan Adam?

Kalo al insaan sebagai bentuk “evolusi” al basyar, kenapa di beberapa ayat Al Qur’an kita masih mendapati kalimat penciptaan al insaan dari tanah seperti di QS. 32:7 “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”
Disini bahasa aslinya berbunyi: wa bada’a kholqo al insaani min thiin.

Sebenarnya ada yg kontradiktif (nurut aku sih), kalo Adam dilahirkan, kenapa buku ini membahas tentang jenis-jenis tanah (thin, turab, sholsholin,dll)? Apa hubungannya tanah-tanah itu dengan manusia (Adam)? Apakah manusia diciptakan dari tanah (kan bertentangan dengan judul bukunya)?
——– 0 ———

Note: Aku sudah ikutan milis Agus Mustofa, tapi sampai dengan tulisan ini aku terbitkan kembali (sebelumnya di blog-maztegh), belum ada respon baik dari adminnya maupun anggota milis yg lain.

——– 0 ———

Kebenaran hanya milik Allah. Tidaklah bijak suatu tindakan mengklaim kebenaran milik salah satu makhluknya.